Monday, February 18, 2013

Metodologi Ilmu Agama Islam


Oleh Arief Rahman
Mahasiswa STAIN P. Raya




 Pelbagai Metodologi
Syaikh Mahmood Shalthoot, seorang ulama besar dan pernah menjadi Syaikh Jami’ al-Azhar menyatakan bahwa Islam terdiri dari dua elemen, yaitu aqidah dan syari’ah. Lalu cara mendekatinya adalah dengan cara filosofis-dokteriner.
Sebenarnya metodologi yang dipergunakan oleh Syaikh Mahmood Shalthoot ini adalah berbeda dengan metodologi yang biasa dipergunakan oleh ulama-ulama sebelumnya, yang menyatakan bahwa Islam terdiri dari aqidah dan mu’amalahm sedangkan mu’amalah ini dibagi dua, yaitu mu’amalah yang berhubungan dengan Tuhan dan mu’amalah yang berhubungan denga manusia. Pendekatan mereka adalah dokteriner.
Fazlurrahman, orang Pakistan yang kini menjadi guru besar tamu di Universitas Chicago, mempunyai pendapat bahwa pokok ajaran  Islam ada tiga, yaitu percaya kepada keesaan Tuhan, pembentukan masyarakat yang adil dan kepercayaan hidup setelah mati. Untuk mempelajari hal itu, sudah barang tentu orang harus mempelajari konteks sejarahnya yaitu, dalam suasana dan situasi apa ayat al-Qur’an itu diturunkan. Artinya bahwa Asbabun Nuzul adalah  hadis yang diturunkan juga merupakan sumber dalam memahami islam, rupa-rupanya digunakan Fazlurrahman dengan sangat hati-hati, dan hanya hadis yang benar-benar hadis itulah yang diprgunakan dengan mengingat sebab-sebab hadis itu diucapkan Nabi Muhammad. Jelasnya Asbabul Wurud  merupakan satu kesatuan untuk memahami hadis. Rupa-rupanya dalam penelitian hadis ini Fazlurrahman sama sekali menolak hadis yang menurut pendapatnya bertentangan dengan akal.
Melihat tiga macam metodologi tersebut di atas orang dapat memahami sekalipun pendekatan mereka berbeda, namun dapat diambil kesimpulan bahwa elemen-elemen yang harus diketahui dalam Islam adalah: (1) Tuhan, (2) alam dan (3) manusia. Tuhan, alam dan manusia atau teologi, kosmologi, dan antropologi ini tiga masalah pokok yang dibahas oleh Islam- juga agama-agama lainnya.
Kewajiban para intelektual Muslim dewasa ini adalah meyakini dan mengetahui Islam sebagai agama yang memberikan hudan dan petunjuk bagi manusia, baik individu maupun masyarakat, dan bahwa Islam menjanjikan jalan lampang kehidupan umat manusia sekarang ini dan dimasa yang akan datang. Ia harus menganggap kewajiban ini sebagai tugasnya secara individual dan pribadi lapangan apa saja yang ia tekuni, ilmu apa saja yang ia perdalam. Di dalam menekuni dan menggali Islam secara baru dari segi mana ia melihat. Hal ini disebabkan karena Islam adalah serba dimensi dan mempunyai pelbagai macam aspek, sehingga setiap orang yag berusaha mempelajari Islam akam memperoleh pandangan dan petunjuk yang baru dari bidang studinya.
Pentingnya Ideologi
namun harus diingat bahwa metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu. Metode kognitif yang betul untuk mencari kebenaran adalah lebih penting daripada filsafat, sains atau hanya mempunyai bakat.
Metode mempunyai peranan yang sangat penting dalam kemajuan atau kemunduran. Karena metode penelitian, karena melihat sesuatu, bukan karena ada atau tidak adanya orang-orang yang genius yang membawa stagnasi dan masa bodoh atau gerak kemajuan. Umpamanya saja pada abad keempat belas, lima belas dan enam belas Masehi. Aristoteles (384-322 SM) sudah tentu lebih jauh genius dari Francis Bacon (1561-1626M) dan Plato (366-347 SM) adalah lebih genius daripada Roger Bacon (1214-1294). (Perlu sedikit dijelaskan di sini bahwa Francis Bacon adalah ahli filsafat dan negarawan Inggris. Sahamnya yang terbesar dalam bidang ilmu pengertahua adalah metode induktif dari ilmu eksperimontal modern. Sedangkan Roger Bacon adalah ahli filsafat akolastik Inggris. Ia pada zaman modern ini selalu diperingati karena perhatiannya pada ilmu alam, eksperimen dan observasi langsung. Ia menganggap bahwa sains adalah pelengkap, dan tidak bertentangan dengan iman). Pertanyaannya adalah: apa yang menyebabkan dua orang bacon itu menjadi factor dalam kemajuan sains, sekalipun kedua orang itu jauh lebih rendah geniusnya disbanding dengan Plato atau Aristoteles; sedangkan orang-orang genius itu justru tidak bisa membangkitan Eropa pada abad-abad pertengahan, sehingga menyebabkan stagnasi dan kemandegan? Dengan perkataan lain: mengapa orang-orang genius menyebabkan kemandegan dan stagnasi di duia sedang orangp-orang yang biasa saja dapat membawa kemajuan ilmiah, dan kebangkitan rakyat? Sebab adalah bahwa orang-orang yang disebutkan belakangan ini, menemukan metode berfikir yang benar, yang dengan metode itu, kelipun kecerdasannya biasa, dapat menemukan kebenaran; sedangkan pemikiran genius yang besar, apabila tidak mengetahui metode yang benar dalam melihat sesuatu yang memikirkan masalah-masalahnya. Maka mereka tidak dapat memenafaatkan kegeniusannya itu.
Berfikir benar adalah seperti berjalan. Seorang yang lumpuh sebelah kakinya dan tidak berjalan dengan cepat, apabila ia memilih jalan yang benar akan mencapai tujuannya lebih cepat daripada jago lai yang mengambil jalan yang terjal lagi berbelok-belok. Betapapun cepatnya jago lari itu, ia akan datang terlambat pada tempat yang dituju itupun kalau ia sampai keman; sedangkan orang yang lumpuh kakinya yang memilih jalan yang benar akan sampai kepada tujuan dengan segera.
Metodologi Ilmu Agama Islam
Dalam mempelajari dan mengetahui Islam kita kenal metode-metode orang-orang Barat yang meneliti Islam, yaitu metode naturalistic, psikologis atau sosiologis. Kita harus mencoba metode baru dalam memahami Islam. Sudah tentu kita perlu mempalajari metode-metode ilmiah yang digunakan oleh orang-orang Barat itu, walaupun akan merupakan suatu keharusan untuk mengikuti metode-metode itu.
Dalam penyelidikan tentang agama, jalan-jalan baru harus ditempuh dan metode-metode baru harus dipilih.
Jelas bahwa satu metode saja tidak bisa dipilih untuk mempelajarai Islam, karena islam adalah bukan agama yang monodimensi. Islam adalah bukan agama yang hanya didasarkan kepada intuisi mistis dari manusia dan terbatas pada hungungan antara manusia dengan Tuhan. Ini adalah hanya merupakan suatu dimensi dari agama Islam. Untuk mempelajarai ini metode filosofis harus dipergunakana, karena hubungan dengan manusia dengan Tuhan dibahas daslam filsafat, dalam arti dalam pemikiran metafisis yang umum dan bebas. Dimensi yang lain dari agama islam adalah masalah kehidupan manusia di bumi ini. Untuk mempelajari dimensi ini harus dipergunakan metode-metode yang selama ini dipergunakan dsalam ilmu manusia. Lalu Islam juga merupakan suatu agama yang membentuk suatu masyarakat dan peradabab. Untuk mempelajari dimensi ini maka metode sejarah dan sosiologi harus dipergunakan,
Karena Islam adalah agama, maka memahami Tuhan dengan mempergunakan metode filosofis, membahas kehidupan manusia di bumi yang mempergunakan metode ilmu-ilmu manusia, dan mempelajari masyarakat dan peradaban dengan metode historis dan sosiologis harus ditambah dengan metode doktriner.
Jelasnya mempelajari Islam denga segala aspek tidaklah cukup dengan metode ilmiah saja, yaitu metode filosofis, ilmu-ilmu manusia, historis dan sosiologis saja. Demikian juga memahami Islam dengan segala aspeknya itu tidak bisa hanya secara doktriner saja.
Selama ini pendekatan terhadap agama Islam masih sangat picang. Ahli-ahli ilmu pengetahuan, termasuk dalam hal ini para orientalis mendekati Islam dengan metode ilmiah saja. Akibatnya adalah bahwa penelitiannya itu menarik tetapi sebenarnya mereka tidak mengerti secara utuh.
Yang mereka ketahui adalah hanya eksternalitas (segi-segi luar) dari Islam saja. Sebaliknya para ulama kita sudah terbiasa memahami Islam dengan cara doktriner dsan dogmatis, yang sama sekali tidak dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang hidup di dalam masyarakat. Akibatnya ialah bahwa penafsiranya itu tidak dapat diterapkan di dalam  masyarakat. Itulah sebabnya orang lalu mempunyai kesan bahwa Islam sudah ketinggalan jaman dan tidak sesuai dengan alam pembangunan ini. Pendekatan ilmiah-cum-dokteriner harus kita pegunakan, pendekatan scientific-cum suigeneris harus kita terpakan. Inilah yang dimaksud dengan metode sintesisi.
al-Qur’an dan Sejarah Islam
Ali syari’ati dalam metodologinya, membandingkan agama itu dengan manusia. Untuk mengetahui manusia besar itu hanya ada jua jalan; dan kedua jalan itu harus digunakan bersama-sama untuk memperoleh hasil yang sebenarnya, yaitu memahami orang besar yang dibahas.
Dua metode yang fundamental untuk memperoleh pengetahuan tentang orang; dan keduanya itu harus dipergunakan secara bersama. Pertama adalah penelitian tentang peikiran dan keyakinannya; dan yang kedua adalah penelitian tentang biografinya sejak dia permulaan sampai akhir.
Agama adalah seperti manusia. Ide-ide suatu agama terpusat pada kitab sucinya, yang merupakan dasar dari ajaran-ajarannya yang ditawarkan kepada manusia. Adapun biografi agama adalah sejarah-sejarahnya.
Dengan begitu terdapatlah dua metode yang fundamental untuk memahami Islam secara tepat. Pertama dalah mempelajari al-Qur’an yang merupakan himpunan ide dan output ilmiah dan literer yang dikenal dengan Islam. Dan yang kedua adalah mempelajari sejarah Islam, yaitu mempelajari seantero perkembangan Islam sejak permulaan mis Nabi Muhammad saw hingga sekarang.
Tipologi
Metode lagin untuk memahami Islam adalah tipologi. Metode ini yang oleh banyak ahli sosiologi dianggap obyektif berisi klasifikasi topic dan tema yang sesuai dengan tipenya. Lalu dibandingkan dengan topic dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Dalam hal agama Islam juga agama-agama lain. Kita dapat mengindetifikasi lima aspek atau ciri agama itu, lalu dibandingkan dengan aspek dan ciri yang sama dari agama lain:
  1. Tuhan atau tuhan-tuhanan dari tiap agama; yaitu sesuatu yang disembah oleh pengikut-pengikut agama itu.
  2. Nabi dari tiap agama; yaitu orang yang membawa ajaran agama itu;
  3. Keadaan sekitar waktu munculnya Nabi dari tiap agama dan orang-orang yang didakwahi. Kita harus ingat bahwa setiap Nabi menyampaikan ajarannya dengan cara yang berbeda-beda. Ada Nabi yang mengajak kepada manusia umum (al-Nas); Nabi lain memusatkan dakwahnya kepada raja-raja dan bangsawan, yang lainnya lagi kepada orang-orang pandai, ahli-ahli filsafat dan orang-orang pilihan. Ada Nabi yang dekat kepada kekuasaan yang ada; sedangkan yang lainnya menempatkan dirinya sebagai musuh dan lawan terhadap kekuasaan yang ada.
  4. Individu-individu yang terpilih yang dihasilkan oleh agama itu orang-orang pilihan yang telah terlatih lalu diterjunkan dimasyarakat dan sejarah.
Metode ini untuk dapat mengetahui lebih luas tentang Islam, orang itu pertama-tama harus mengetahui Tuhan atau Allah. Banyak jalan utnuk memperoleh pengetahuan tentang Tuahn itu, seperti mempelajari Kitab Suci yang berhubungan dengan ktuhananm memerhatikan alam dengan seluk beluknya, memperhatikan perubahan yang terjadi pada masyarakat juga merenungkan diri sendiri, juga dengan metode filsafat, illuminasi dan ma’rifah.
Agar supaya kita dapat mengenal denga betul ciri-ciri Tuhan, kita harus kembali kepada al-Qur’an dan Hadis Nabi.

Emoticon Ini Tidak Untuk Komentar Lewat Facebook.Copas Kode Pada Komentar Mu....
:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i:
:j: :k: :l: :m: :n: :o: :p: :q: :r:
:s: :t: :u: :v: :w: :x: :y: :z: :ab:
Previous Post Next Post Home
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Mohon maaf apabila terdapat komentar yang sesuai kriteria di bawah ini akan dihapus, demi kenyamanan bersama

1. Komentar berbau pornografi, sara, dan menyinggung.
2. Mencantumkan link hidup.
3. Mengandung SPAM.
4. Mempromosikan Iklan.

Terima kasih atas perhatiannya.