Sunday, June 17, 2012

Islam di Indonesia,Ulama Islam,Kerajaan Islam dan Wali Songo

Telah dipresentasikan dalam mata kuliah telaah materi SKI dan direfisi oleh: 
Norperawati
Mahasiswa STAIN Palangkaraya angkatan 2008
untuk mengunduh file dalam bentuk power point dapat klik disini
diedit oleh Arief Rahman


BAB I
PENDAHULAN
A.    LATAR BELAKANG
[1]Kedatangan agama Islam pada Abad ke-7 M ke dunia dianggap oleh sejarahwan sebagai pembangunan Dunia Baru dengan pemikiran baru, cita-cita baru, kebudayaan serta peradaban baru. Selama lebih dari empat belas abad semenjak Nabi Muhammad menyebarkan ajaran-ajaran baru dalam bidan teologi monoteistis, bidang kehidupan individu, kehidupan masyarakat, dan kenegaraan, terbentanglah peradaban Islam dari wilayah Spanyol sampai benteng Cina.
Perubahan –perubahan yang ditimulkan oleh Islam, baik dalam bidang politik, sosial dan peradaban adalah karena Islam selak agama telah mengajarkan tiga nilai baru.
1.   Islam mengajarkan adanya kehidupan akhirat yang berkesinambungan dengan kehidupan duniawi.
2.   Islam mengajarkan pemeluknya bertanggung jawab atas nasibnya sendiri di akhirat.
3.  Islam mengajarkan aturan-aturan hidup bermasyarakat dan bernegara dalam cakrawala kehidupan solidaritas umat islam di Indonesia.
Tiga nilai baru tersebut mendorong manusia untuk menetapkan tiga hal dasar, yaitu bagaimana hidup yang benar,berpikir dan mengamalkan dengan benar, dan bagaimana mengorganisasi sesuatu dengan benar[2].
Kekuatan moral spiritual religius yang lebih mendasar, ditambah kekuatan saintifis intelektual yang lebih tajam, pengorganisasian yang lebih efektif dan efisiensi, dibawah kepemimipinan yang lebih beribawa biasanya akan lebih unggul dalam proses saling mempengaruhi tadi. Demikian juga peradaban Islam Indonesia, walaupun kebudayaan sangat minim bila dibandingkan peradaban Mughal (India) yang masih memiliki simbol-simbol kebesaran seperti Taj Mahal, di Indonesia peradabannya sangat sederhana, miskin, kekuatan himmah yang telah mendorong Muslim di negara lain untuk menciptakan pekerjaan besar tidak muncul. Walaupun demikian, Islam datang ke Nusantara membawa Tamaddun (kemajuan) dan kecerdasan.
Ketika Islam datang, sebenarnya kepulauan Nusantara sudah mempunyai peradaban yang bersumber kebudayaan asli pengaruh dari peradaban Hindu-Budha dari India, yang penyebaran pengaruhnya tidak merata. Walaupun demikian, Islam dapat cepat menyebar. Hal itu disebabkan Islam dibawa oleh kaum pedagang maupun para da’i dan ulama, bagaimana pun keislaman para da’i dan ulama masa awal, mereka semua menyiarkan suatu rangkaian ajaran dan cara serta gaya hidup yang secara kualitatif lebih maju daripada peradaban yang ada.
Dengan kedatangan Islam, masyarakat Indonesia mengalami transformasi dari masyarakat agraris feodal pengaruh Hindu-Budha kearah masyarakat kota pengaruh Islam. Islam pada awalnya adalah Urban (perkotaan).walaupun transformasi (Islam) belum selesai dan belum sempurna pada waktu itu, tetapi Islam sudah berfungsi sebagai kekuatan pendorong perlawanan terhadap penjajah sekaligus lambang pemersatu. Ajaran Islam dapat menumbuhkan Jiwa Patriotisme sebagai bagian dari Iman yang berorientasi kearah persatuan seluruh kepulauan Nusantara.

BAB II
PEMBAHASAN
A.                Kedatangan Islam Di Indonesia
Sejak zaman prasejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas, sejak awal abad Masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daratan Asia Tenggara[3]. Wilayah barat nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang dan menjadi daerah-daerah lintasab penting antara Cina dan India. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi pedagang asing, seperti Lamuri (Aceh), Barus dan Palembang di Sumatra,(sunda kelapa dan gresik di jawa)[4].
Pedagang-pedagang muslim asal Arab, persia dan india juga ada yang sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad ke-7 M (abad I H), ketika islam pertama kali berkembang di Timur Tengah.Malaka jauh sebelum ditaklukan Portugis
(1511), merupakan pusat utama lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Melalui Malaka, hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok Nusantara dibawa ke cina dan India,terutama gujarat, yang melakukan hubungan langsung dengan Malaka pada waktu itu. Dengan demikian, malaka menjadi rantai pelayaran yang penting. Lebih kebarat lagi dari gujarat, perjalanan laut melintasi lautan Arab.
Menurut J.C. Van Leur, beradasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di barat laut sumatra, yaitu di Barus, daerah penghasilan kpur barus terkena[5]l. Dari berita Cina diketahui bahwa di masa Dinasti T’ang (abad ke- 9-10) orang –orang Ta’shih adalah sebutan untuk orang-orang Arab dan Persia, yang ketika itu jelas sudah menjadi muslim.
Baru pada zaman-zaman berikutnya, penduduk kepulauan ini masuk islam, bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni pedagang muslim itu. Menjelang  abad ke-13 M, masyarakat muslim sudah ada di Samudra Pasai, Perlak dan Palembang di Sumatra. Di Jawa makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 475 H (1082 M), dan makam-makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13 M merupakan bukti berkembangnya komunitas Islam, termasuk di pusat kekuasaan Hindu- jawa ketika itu. Namun sumber sejarah yang sahih yang memberikan kesaksian sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan tentang berkembangnya masyarakat Islan di Indonesia, baik berupa prasasti dan historigrafi tradisional maupun berita asing, baru terdapat ketika “Komunitas Islam” berubah menjadi pusat kekuasaan.
Ada dua faktor utama  yang menyebabkan Indonesia mudah dikenal oleh bangsa-bangsa lain, khususnya oleh bangsa-bangsa di Timur Tengah dan Timur jauh sejak dahulu kala, yaitu:
1. Faktor letak geografisnya yang strategis. Indonesia berada dipersimpangan jalan Raya Internasional dari jurusan Timur Tengah menuju Tiongkok, melalui lautan dan jalan menuju benua Amerika dan Australia.
2.   Faktor kesuburan tanahnya yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang dibutuhkan oleh bangsa-bangsa lain.
Sampai berdirinya kerajaan-karajaan Islam itu, perkembangan Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi 3 (tiga) fase:
1.   Singgahnya pedagang-padagang Islam di pelabuhan Nusantara, sumbernya adalah berita luar Negeri, terutama Cina.
2.  Adanya komunitas- komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan Indonesia, sumbernya disamping berita-berita asing, juga makam-makam Islam.
3.      Berdirinya kerajaan- kerajaan Islam[6].
[7]Dari paparan diatas dapat dijelaskan bahwa tersebarnya Islam ke Indonesia adalah melalui saluran- saluran sebagai berikut:
a.         Perdagangan yang mempergunakan pelayaran.
b.         Dakwah, yang di lakukan oleh mubaliq yang berdatangan bersama para pedagang, para mubalq itu bisa jadi juga para sufi pengembara.
c.         Perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang muslim, mubaliq dengan anak bangsawan indonesia. Hal ini akan mempercepat terbentuknya inti sosial, yaitu keluarga muslim dan masyarakat muslim. Dengan perkawinan itu secara tidak langsung orang muslim tersebut status sosialnya di pertinggi dengan sifat kharisma kebangsawanan. Lebih-lebih apabila pedagang besar kawin dengan putri raja, maka keturunanya akan menjadi pejabat birokrasi, putra mahkota kerajaan dan lain-lain[8].
d.        Pendidikan, setelah kedudukan para pedagang mantap, mereka menguasai kekuatan ekonomi di bandar-bandar seperti gresik. Pusat-pusat perekonomian itu menjadi pusat pendidkan dan penyebaran islam. Pusat-pusat pendidkan dan dakwah islam di kerajaan Samudrai Pasai berperan sebagai pusat dakwah pertama yang didatangi pelajar-pelajar dan mengirim mubaliq lokal, diantaranya mengirim Maulana Malik Ibrahim ke Jawa. Selain menjadi pusat-pusat pendidikan, yang disebut pesantren, di Jawa juga merupakan markas pengembangan kader-kader politik[9].
e.         Tasawuf dan Tarekat, sudah diterangkan bahwa bersamaan dengan pedagang, datang pula para ulama, da’i dan sufi pengembara. Para ulama atau sufi itu ada yang kemudian diangkat menjadi penasehat atau penjabat agama di kerajaan. Di Aceh ada Syaikh Hamzah Fansuri, Syamsudin Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, Abd. Rauf Singkel. Demikian juga kerajaan-kerajaan di Jawa mempunyai penasihat yang bergelar Wali, yang sering dikenal dengan Wali Songo.
f.              Kesenian, saluran yang banyak sekali dipakai untuk penyebaran Islam terutama di Jawa adalah Seni. Wali Songo terutama Sunan Kali Jaga, mempergunakan banyak cabang seni, untuk Islamisasi, seni Arsitektur, gamelan, wayang, nyanyian dan seni busana[10].
Proses penyebaran Islam di Indonesia
Proses masuknya Islam di Indonesia berlangsung secara bertahap melalui para pedagang muslim yang berasal dari bahasa Arab dan Farsi. Jalur penyiaran Islam ke Indonesia berlangsung melalui dua jalur yang bertemu di Gujarat.
Dari pertemuan di Gujarat tersebut, mereka kemudian menuju ke Asia Tenggara, yaitu Bumi Nusantara. Dengan Demikian, Gujarat merupakan batu loncatan para pedagang Arab dalam menyebarkan Islam di Indonesia.
Adapun penyebaran agama Islam di Bumi Nusantara dilakukan melalui tiga cara, yaitu[11]:
1.      Perdagangan
2.      Pernikahan
3.      Pembebasan budak, ketika para saudagar muslim Arab datang ke Indonesia masih ada perbudakan yang dilakukan oleh para pedagang yang beragama lain. Orang-orang kaya menjadikan orang-orang miskin sebagai budak. Dengan kasih sayangnya, para saudagar muslim kemudian memberi dan membebaskan para budak. Karena merasa diperlakukan dengan adil oleh para saudagar muslim, mereka pun akhirnya dengan sukarela masuk agama Islam.
Akhirnya, Islam menyebar ke seluruh tanah air Indonesia dengan lancar. Pemeluknya semakin tahun semakin bertambah hingga saat ini. Cinta dan Perdamaian itulah yang menjadi kunci paling penting dalam proses penyebaran Islam di Indonesia. Dengan demikian, tidak benar jika ada yang mengatakan Islam disebarkan dengan pedang dan kekerasan.
Pengaruh Islam Terhadap Peradaban Bangsa Indonesia
Bangsa Indonesia sebelum menerima agama islam telah mempunyai agama dan kepercayaan, yaitu agama Hindu, Budha, serta Animisme dan Dinamisme. Disamping itu masyarakat Indonesia telah memiliki peradaban sebelum kedatangan Islam, seperti peradaban Megalithicum dan peradaban yang merupakan perpaduan antara peradaban lokal dan peradaban Hindu-Budha.
Secara sosiokultural, pengaruh Islam terhadap peradaban bangsa Indonesia dapat dibedakan menjadi beberapa hal berikut:
v Pengaruh Adat Istiadat
v Pengaruh kesenian
v Pengaruh Bahasa dan Nama
v Pengaruh Politik
B.                 Ulama – ulama Awal di Indonesia
Penyebaran agama Islam di Indonesia, terutama di Jawa dilakukan oleh Wali Songo. Selain itu, penyebaran juga dilakukan oleh para ulama, seperti Syekh Bentong yang berdakwah disekitar Lawu, Sunan Bayat melakukan dakwah di Klaten, Syekh Majagung, Sunan sendang Duwur, dan Sunan Marapen.
Selain berkembang pesat di pulau Jawa, Islam juga berkembang dibeberapa pulau lainnya Di Indonesia. Dakwah islam juga dilakukan beberapa ulama besar, yaitu[12]:
·         Dato’ ri Bandang, ulama yang berdakwah dan menyebarkan agama islam di daerah Gowa, Makasar.
·         Dato’ Sulaeman, ulama yang berdakwah dan menyebarkan agama islam di daerah Sulawesi Tengah dan Utara.
·         Tuan Tunggang ri Parangan, ulama yang berdakwah dan menyebarkan agama islam di Kalimantan Timur.
·         Penghulu Demak, ulama yang berdakwah dan menyebarkan agama Islam di daerah Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
C.                 Walisongo
Para walisongo ditinjau dari kepribadian dan perjuangan dakwahnya termasuk kekasih Allah. Dan ditinjau dari tugas dan fungsinya dalam kerajaan Demak, mereka adalah para penguasa pemerintahan. Oleh karena itu, mereka mandapat gelar susuhunan (sunan), yaitu sebagai penasihat dan pembantu raja. Dengan demikian maka sasaran pendidikan dan dakwah Islam meliputi rakyat umum dan kalangan pemerintahan.
1.      Maulana Malik Ibrahim
Nama lain dari Maulan Malik Ibrahim adalah Maulana Magribi, dan Maulana Ibrahim. Terjadinya perbedaan pendapat mengenai asal mula dari Maulan Ibrahim ini. Menurut tradisi atau Babad Jawa, beliau adalah seorang ulama dari tanah arab, keturunan Zainal Abidin, cicit Nabi Muhammad Saw. Sementara itu Hamka menulis bahwa beliau berasal dari Kasyan, persia, dan seorang bangsa Arab keturunan Rasulullah yang datang ke Jawa sebagai penyebar agama Islam.
Pola dakwah yang dikembangkan oleh beliau, adalah sebagai berikut[13]:
a.       Bergaul dengan para remaja
b.      Membuka pendidikan pesantren
2.      Sunan Ampel
Gelar sunan ampel adalah Raden Rahmat, sedangkan nama mudanya Ahmad Rahmatullah. Beliau adalah putra dari Ibrahim Asmorokokandi seorang Ulama Kamboja yang kemudian menikah dengan Putri Majapahit.
Beberapa pola dakwah yang dikembangkan oleh Sunan Ampel adalah:
a.    Menyerukan dan melanjutkan perjuangan yang telah dilakukan oleh wali yang sebelumnya. Yaitu dengan mengadakan pendidikan bagi masyarakat, khusus bagi para kader bangsa dan para mubaligh.
b.      Menyiapkan dan melatih generasi-generasi Islam yang dapat diandalkan.
c.    Membangun hubungan silahturahmi dan persaudaraan dengan putra pertiwi (pribumi), yaitu dengan menikahkannya dengan putri daerah setempat.
d.      Mempelopori pendirian Mesjid Agung Demak. Mesjid tersebutlah yang kemudian dirancang sebagai sentral seluruh aktivis pemerintahan dan sosial kemasyarakatan.
e.       Melebarkan wilayah dakwahnya, yaitu dengan mengutus para kepercayaannya untuk berdakwah kewilayah lain.
3.      Sunan Giri
Nama lain dari Sunan Giri adalah Jiko Samudro, Raden Paku, Prabu Satmata. Selain nama tersebut beliau juga memiliki gelar yaitu Sunan Abdul Fiqih.
Sunan Giri adalah seorang Da’i sekaligus ulama ulung yang dibekali pengetahuan agama yang cukup memadai. Dalam syiar dakwah yang pertama kali dilakukannya adalah dengan mendirikan mesjid. Dan kemudian beliau mendirikan beberapa pondok pesantren dan mengajarkan ilmu-ilmu agama, seperti ilmu fiqh, ilmu hadist, serta nahu dan saraf kepada anak didiknya.
Pola dakwah yang telah dikembangkan oleh beliau adalah:
a.       Membina da’i kader inti. Yaitu mereka yang dididik diperguruan tinggi.
b.  Mengembangkan islam keluar jawa. Pola dakwah yang dikembangkannya dan tidak dilakukan wali-wali sebelumnya adalah usahanya mengirim anak muridnya ke plosok-plosok Indonesia untuk menyiarkan Islam.
c.       Menyalenggarakan pendidikan bagi masyarakat secara luas
4.      Sunan Kudus
Sunan Kudus alias R. Amin Haji menantu Sunan Bonang (namanya yang lain Syekh Jafar Al-sadiq) mendalami ilmu syariat. Tuganya menjadi hakim Tinggi di Demak dan menjadi Panglima militer. Bidang hukum syariat yang mendapat perhatian lebih khusus adalah bidang muamalat.
5.      Sunan Bonang
Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel. Sunan bonang menaruh perhatian yang besar pada bidang kebudayaan dan kesenian. Daerah operasinya ialah antara Surabaya dan Rembang. Beliau mengarang lagu-lagu gending Jawa yang berisi tentang keislaman, antara lain tembang mocopat.
Pola dakwah yang dikembangkan oleh beliau adalah:
a.  Pemberdayaan dan peningkatan jumlah dan mutu kader da’i. Yaitu dengan mendirikan pendidikan dan dakwah Islam.
b.      Memasukan pengaruh Islam kedalam kalangan bangsawan keraton Majapahit.
c.       Terjun langsung ketengah-tengah masyarakat.
d.      Melakukan kodifikasi atau pembukuan dakwah.
6.      Sunan Drajat
Sunan Drajat alias R. Qasim alias Syafarudin adalah putra Sunan Ampel, adik dari Sunan Bonang, menjadi penasihat dan pembantu R.Fatah dalam pemerintahan. Pehatiannya secara khusus ditunjukan pada kesejahteraan sosial dari para fakir miskin, menorganisir amil, zakat dan infak. Beliau menganjurkan hidup sederhana dan selalu tirakat baik kepada para santrinya, kepada rakyat dan kepada para pembesar negara Demak.
7.      Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau nama lengkapnya adalah Syarif Hidayatullah putra dari Syarif Abdullah dan Nyai Larasantan. Sunan Gunung Jati selain seorang da’i juga dikenal sebagai pahlawan bangsa yang gigih melawan penjajahan.
Strategi metode pengembangan dakwah yang dilakukan oleh beliau lebih terfokus pada job description atau pembagian tugas diantaranya adalah dengan melakukan:
a.  Melakukan pembinaan intern kesultanan dan rakyat yang masuk dalam wilayah Demak di Tangan Wali Senior.
b.  Melakukan pembinaan terhadap luar daerah dengan menyerahkan tanggung jawabnya kepada para pemuda.
8.      Sunan KaliJaga
Raden Mas Syahid atau Sunan Kalijaga menikah dengan putri Maulana Ishak. Dengan demikian, Sunan Kalijaga adalah ipar Sunan Giri dan Sunan Bonang. Sunan Kalijaga berdakwah menerobos pengaruh Hindu yang memang sudah sangat kuat di masyarakat Jawa. Beliau menggunakan seni wayang sebagai media dakwah, karena kesenian tersebut adalah kesenian yang sangat disenangi dan berkembang disana. Cerita-cerita dalam wayang dibuat sedemikan rupa sehingga unsur dakwah masuk dengan sangat baik. Sebenarnya menjadikan seni sebagai media dakwah adalah hal yang baru pada masa itu, baik di masyarakat atau lingkungan kraton. Dalam waktu tidak terlalu lama Sunan Kalijaga berhasil mengIslamkan masyarakat dan lingkungan keraton dengan pendekatan dakwah melalui kesenian. Beliau wafat dan dimakamkan di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah.   
9.      Sunan Muria
Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Sunan Muria mewarisi darah darah seni dari orang tuanya. Beliau memamfaatkan seni budaya Jawa sebagai media dakwah kepada masyarakat. Beliau berdakwah sampai ke daerah pedalaman Kudus dan Gunung Muria sehingga Islam pun berkembang samapi ke pelosok desa.
Peranan Wali Songo dalam Pengembangan Islam di Indonesia
Wali Songo mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di pesisir pantai pulau Jawa. Daerah yang menjadi sasaran dakwah Wali Songo adalah pesisir pantai Gresik di Jawa Timur hinga Cirebon dan Banten.
mengIslamkan pulau Jawa adalah prestasi besar bagi para Wali Songo, karena kemajuan Jawa akan sangat mempengaruhi penyebaran Islam ke daerah lainnya. Pulau Jawa dengan kepadatan penduduknya dan menjadi pusat pemerintahan bangsa Indonesiatentu akan sangat potensial untuk dijadikan contoh dakwah bagi daerah lain.
Dalam cacatan sejarah, dakwah penyiaran Islam tentu belum ada sampai saat ini sembilan Ulama terkemuka muncul pada waktu bersamaan dan berdakwah pada satu pulau yang sama. Kepiawan dan keuletan para wali dalam berdakwah telah mewariskan semangat keIslaman bagi para da’i saat ini sampai masa yang akan datang.
Banyak hikmah yang dapat kita jadikan Ibrah atau pelajaran dari perajalan dakwah Wali Songo . beberapa Hikmah yang dapat kita ambil dan kita teladani antara lain:
Ø  Wali Songo terkenal sebagai para ulama yang mempunyai Ilmu pengetahuan yang tinggi, khususnya ilmu agama Islam.
Ø  Kecerdasan dan kesalehan para Wali membuat mereka bukan hanya diterima sebagai ulama oleh masyarakat, tetapi mereka juga diterima ikut membangun pemerintahan.
Ø  Pendekatan dakwah melalui kesenian merupakan terobosan luar biasa bagi para Wali dalam berdakwah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan/ Analisis :
Dari beberapa literatur yang kami muat dalam makalah kami tentang sejarah masuk dan berkembangnya islam di indonesia, dapat kami simpulkan dengan merujuk dan berdasarkan hasil seminar Nasional tentang Masuknya Islam di indonesiayang di adakan di Medan pada tahun 1963. Kegiatan seminar ini merupakan petunjuk adanya keinginan besar dari ulama dan kaum intelektual muslim Indonesia untuk menggali dan menemukan kebenaran sejarah Islam di Indonesia untuk diwariskan kepada generasi yang akan datang. Secara khusus pula, adanya seminar ini merupakan bukti bahwa majelis ulama Daerah Istimewa Aceh mampu melaksanakan program-programnya yang telah disusun. Hasil yang akan diperoleh dari seminar ini akan sangat besar artinya bagi umat Islam Indonesia dan bagi bahan penulisan kembali sejarah tanah air, khususnya mengenai islam.
Kita semua mengetahui bahwa penulisan tentang sejarah Islam di Indonesia selama ini masih didominasi oleh versi sarjana-sarjana Barat yang dalam penilaian kita banyak terdapat kekeliruan, baik sengaja maupun tidak sengaja, adalah tanggung jawab dari kita bersama, tanggung jawab ulama dan para intelektual Muslim Indonesia untuk meluruskan atau memperbaiki kekeliruan-kekeliruan  tersebut . apabila kita tidak segera mengoreksinya, maka kita akan mewariskan sesuatu yang salah kepada generasi kita yang akan datang.

Kita merasa bersyukur bahwa dalam dua dekade telah tumbuh kesadarn dari para sarjana dan intelektual Muslim Indonesia untuk melakukan penelitian dan penulisan kembali terhadap sejarah di Indonesia.tokoh-tokoh muda mula bermunculan , walaupun belum banyak, untuk meneruskan usaha penulisan Sejarah Islam yang telah dirintis oleh tokoh-tokoh sebelimnya seperti H. Agus Salim (Alm). H. Abubakar Aceh (alm), Prof.Dr.Hamka dan lain-lain.
Dalam seminar masuknya Islam di Indonesia yang diadakan di Medan tahun 1963 menurut penilaian kami adalah merupakan langkah awal yang penting dari upaya kita menggali dan menemukan kembali fakta sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang menjembatani isolasi. Hasil seminar di Medan itu merupakan koreksi total terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh penulis-penulis sebelimny, khususnya versi dari orientasi-orientasi Barat.
Dalam kita mempelajari sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia kita dapat mengambil kesimpulan yang diantaranya seperti disimpulkan dalam seminar di Medan, beberapa hal penting yang dapat kita ambil, diantaranya:
Pertama, bahwa agama Islam telah berangsur-angsur datang ke Indonesia sejak abad-abad pertama Hijrah atau sekitar abad ke 7 dan ke 8 dan langsung dari Arab.
Kedua, penyiaran agama Islam di Indonesia adalah dengan cara damai, bukan dengan pedang dan kekuasaan.
Ketiga, kedatangan Islam di Indonesia membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian Indonesia.
Usaha penulisan sejarah Islam Indonesia yang dapat dipertanggung jawabkan dan bebas dari konsepsi orientasi yang kurang objektif dewasa ini dirasakan semakin mendesak. Sebab selain adanya versi orientasi yang tidak objektif seperti dikemukakan diatas, masih banyak pula versi yang berisi dongeng legenda tentang penyiaran agama islam dan tokoh-tokoh mubaligh terdahulu. Kasus riwayat walisongo dalam macam-macam versi dari sendi yang satu sama lain adalah contoh yang faktual. Koreksi yang dilakukan oleh Buya melalui bukunya “Antara Khayal dan Fakta” harus diikuti oleh para ahli sejarah yang lain. Sehingga kita memperoleh nilai-nilai kebenaran daripada sejarah kita lama dari orientasi Barat yang sering menggelapkan fakta sejarah yang sebenarnya dapat di akhiri. Untuk itu barang kali kita perlu memekirkan adanya semacam usaha yang terencana bagi program penulisan itu, dengan jalan  antara lain menumbuhkan kegairahan menulis dan mendorong para ahli-ahli sejarah kita agar melakukan penulisan sejarah Islam Indonesia.
Islam datang ke nusantara membawa Tamaddun / kemajuan/ kecerdasan. 
Sudah menjadi konsensus umum dikalangan para sejarahwan diseluruh dunia, baik dari Barat maupun dari Timur, bahwa bangkitnya Islam pada abad ke 8 masehi, atau 1400 tahun perhitungan hijriyah, telah membangun suatu Dunia baru, dengan dasar pemikiran baru, cita-cita baru serta kebudayaan dan peradaban baru pula.
Seperti halnya dengan tiap-tiap peradaban dunia, maka peradaban dunia Islam yang selama 4 ½ abad sudah kelihatan berkembang baik, kemudian mengalami kemunduran. Menurut Orientalis Inggris Lothrop Stoddard dalam bukunya: “The New World of Islam”, terbitan tahun 1922, sebab kemunduran Dunia Islam adalah “Superstition and mysticim”, ketakhyulan dan mistik yang merusak tauhid.
Dari fakta-fakta sejarah diatas, maka kesimpulan-kesimpulan yang dapat kami tarik adalah antara lain sebagai berikut:
1)  Dalam menghadapi “interrupsi historis” dari pihak luaran, yaitu berupa penetrasi ekonomi, agressi bersenjata dan infiltrasi keagamaan kristen oleh pihak kolonialisme Belanda, maka Islam di Indonesia menumbuhkan dan menyuburkan jiwa patriotisme anti kolonial, yang menyala-nyala, serta semangat herois fanatisme yang pantang menyerah.
2)  Selain itu. Islam terus memperkembangkan suatu susunan masyarakat yang tetap berdikari, baik dengan semangat “herodianisme” maupun “zealotisme”, tetapi yang tetap berjiwa non-kooperatif terhadap masyarakat kolonialisme Belanda itu.
3)  Dengan demikian Islam berusaha keras mempertahankan kepribadiannya bangsa indonesia. Sedangkan ajaran-ajaran Islam tidak lagi tersebar di kota-kota pelabuhan dan seliruh daerah pesisir kepulauan Nusantara, dan yang menumbuhkan corak tertentu, yaitu “urban Islam” tetapi ajaran-ajaran Islam mulai meluas masuk ke daerah pedalaman dengan berbagai desa dan tanah pegununganya,dan yang menumbuhkan “nuansa islam” dengan corak tertentunya ditengah-tengah alam pinggiran desa dan pegunungan.
4)   Dan sekalipun kolonialisme Barat itu, terutama dengan keunggulan teknologi dan kepandaian mengadu dombanya, dapat mematahkan perlawanan bangsa Indonesia di berbagai daerah, namun menjelang akhir abad ke XIX samapi ke permulaan abad ke XX M,perlawanan jiwa Islam malahan meningkat di Aceh.
5)    Selam 3 atau 4 abad, ditengah-tengah  penindasan dan pengekangan kolonialisme, ajaran-ajaran Islam dapat menumbuhkan jiwa Patriotisme sebagai bagian dari Iman “Hubbul wathon minal iman” yang berorientasi ke arah persatuan seluruh kepulauan Nusantara, dan yang ternyata kelak merupakan salah satu landasan yang kokoh kuat bagi bangkitnya Nasionalisme Indonesia pada permulaan Abad ke XX Masehi.
Sewaktu Islam datang untuk pertama kalinya ke Indonesia, maka tidak lama kemuian menghadapi suatu interrupsi sejarah. Suatu “historiche interrupsi”, yang memotong jalan perkembangan sejarah kita sebagai bangsa yang merdeka. Interrupsi sejarah itu berupa kedatangan kolonialisme Barat , terutama dengan bercokolnya kolonialisme Belanda. Sehingga Islam, yang pada waktu itu sedang berdakwah di tengah-tengah masyarakat feodal agraris terlapis oleh agama Hindu-Budha, harus berhadapan juga dengan nafsu kolonialisme Barat, dengan usaha kekristenisasinya. Dapat dimengerti bahwa dengan begitu dakwah Islamiyah tidaka dapat berjalan lancar.
Berikut kesimpulan tentang apa yang di bawa oleh Islam pada waktu datangnya, dan bagaimana sikap Islam selama zaman penjajahan atau selama di “interrupsi” oleh kolonialisme dalam sejarah bangsa kita. Secara singkat kami ulangi di sini, bahwa :
§   Islam membawa ke Tanah Air kita suatu pandangan religius monotheistis yang maju sekali.
§   Islam membawa juga suatu cara hidup yang baru yang merupakan suatu “liberating force” bagi susunan masyarakat feodalisme dengan sistim kasta pada waktu itu.
§   Islam ikut menumbuhkan juga jiwa patriotisme dan Nasionalisme  Indonesia, serta ikut memperkembangkan dan me”religieus”kan paham-paham serta cita-cita socio politik modern, separti paham Demokrasi dan Sosialisme.
§   Menjelang proklamasi Kemerdekaan, Islam ikut melahirkan ideologi dan dasar Negara Pancasila.
Segi –segi negatif, yang melekat pada Islam sejak datangnya dulu sampai menjelang zaman Kemerdekaan Nasionalisme kita sekarang ini adalah antara lain :
§  Fanatisme
§  Intoleransi
§  Kolotisme
§  Formalisme kosong
Kerajaan –kerajaan Islam di Indonesia
Peranan para mubalig dalam menyiarkan Agama Islam di Indonesia ternyata memetik hasil yang menggembirakan. Hal ini terbukti dengan banyaknya masyarakat yang memeluk agama Islam dan berdirinya kerajaan –kerajaan yang menjadikan Islam sebagai agama. Berikut kerajaan- kerajaan tersebut:
1.      Kerajaan Perlak
2.      Kerajaan Samudra Pasai
3.      Kerajaan Aceh
4.      Kerajaan Demak
5.      Kerajaan Tallo
6.      Kerajaan Sukadana, Banjar dan Kutai
Peranan Samudra Pasai dalam penyebaran Islam Awal di Indonesia
Samudra Pasai adalah alur perdagangan yang sangat ramai dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai dunia. Samudra Pasai dari tahun ke tahun semakin berkembang pesat dan hal ini sangat mempengaruhi perkembangan syiar Islam kepada masyarakatdan para edagang yang berasal dari berbagai dunia. Para pedagang dari berbagai penjuru Nusantara pun tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Mereka datang untuk berdagang dan sekaligus menuntut ilmu agama Islam kepada para ulama terkenal saat itu.
Kerajaan Samudra Pasai menjadi awal perkembangan Islam yang sangat berpengaruh terhadap syiar Islam ke seluruh Nusantara. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, kerajaan Samudra Pasai telah mengadakan hubungan dagang dengan Sultan Delhi dari India. Ketika Sultan Delhi mengutus Ibnu Batutah pergi ke Cina, ia singgah di Samudra Pasai. Kerajaan Islam Samudra Pasai telah mewariskan sejarah perkembangan syiar Islam pada masa awal pertumbuhan Islam di Nusantara. Di Samudra Pasai inilah awal perkembangan Islam Nusantara.
Peninggalan Kerajaan Islam di Indonesia
Berbagai karya cipta para kaum muslimin ditanah air juga bertebaran dimana-mana yang melambangkan kejayaan Islam di masa lalu. Adapun berbagai peninggalan kerajaan Muslim di Indonesia antara lain:
1.      Mesjid Menara Kudus di daerah Loran yang dibangun pada tahun 1549 oleh Ja’far Sadiq atau Sunan Kudus.
2.      Mesjid Agung Demak adalah mesjid tertua di Jawa yang di bangun oleh Wali Songo bersama Raden Patah penguasa kesultanan Demak.
3.      Mesjid Agung kesepuluh Cirebon yang dibangun oleh Sunan Gunung Jati (1448-1570 M).
4.      Mesjid Agung Banten yang dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin pada abad ke XVI.
5.      Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dibangun pada masa kesultanan Aceh pada tahun 1514 M.

DAFTAR PUSTAKA
Sunanto Musyrifah,Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta:Raja Grafindo Persada;2005)
Gustave E.Von Grunebaum (Ed),Islam Kesatuan dalam Keragaman,(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,1983)
Marwati Djoned Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional II(Jakarta:Balai Pustaka;1984)
Taufik Abdullah, Sejarah Umat Islam Indonesia,(Jakarta:Majelis Ulama Indonesia;1991)
J.C.Van Leur, Indonesian Trade and Society (Bandung:Sumur Bandung;1960)
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada;2007)
Sunanto Musyrifah,Sejarah Peradaban Islam Indonesia,Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2005
Uka Tjanrasasmita, Sejarah Nasional III (Jakarta:PN Balai Pustaka;1976)
Azyumardi,Renaisan Islam Asia Tenggara,sejarah Wancana dan Kekuasaan (Bandung:PT Remaja Rosda Karya;1999)
Ishaq Rusli dan Ummah Zaenatul,Sejarah Kebudayaan Islam MA Kelas XII,(Jakarta:Arya Duta;2007)
Abas Wahid dan Suratno,Khazanah Sejarah Kebudayaan Islam,(Solo;PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri)
Wahyu Ilahi & Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah,(Jakarta:Persada Media Group;2007)
Hasymy.A,Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia,pt almatarif:1993


[1] Sunanto Musyrifah,Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta:Raja Grafindo Persada;2005),Hal 1.
[2] Gustave E.Von Grunebaum (Ed),Islam Kesatuan dalam Keragaman,(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,1983),Hal.6.
[3] Marwati Djoned Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional II(Jakarta:Balai Pustaka;1984), Hal.2.
[4] Taufik Abdullah, Sejarah Umat Islam Indonesia,(Jakarta:Majelis Ulama Indonesia;1991), Hal.3.
[5] J.C.Van Leur, Indonesian Trade and Society (Bandung:Sumur Bandung;1960),Hal.122
[6] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada;2007),Hal.192-193.
[7] Sunanto Musyrifah,Sejarah Peradaban Islam Indonesia,Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2005,Hal.10-11
[8] Uka Tjanrasasmita, Sejarah Nasional III (Jakarta:PN Balai Pustaka;1976),Hal.86
[9] Taufik Abdullah,Sejarah Umat Islam Indonesia...Hal.118
[10] Azyumardi,Renaisan Islam Asia Tenggara,sejarah Wancana dan Kekuasaan (Bandung:PT Remaja Rosda Karya;1999),Hal.34
[11] Ishaq Rusli dan Ummah Zaenatul,Sejarah Kebudayaan Islam MA Kelas XII,(Jakarta:Arya Duta;2007), Hal.65
[12] Abas Wahid dan Suratno,Khazanah Sejarah Kebudayaan Islam,(Solo;PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri),Hal.109
[13] Wahyu Ilahi & Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah,(Jakarta:Persada Media Group;2007)Hal.174

Reaksi:
Emoticon Ini Tidak Untuk Komentar Lewat Facebook.Copas Kode Pada Komentar Mu....
:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i:
:j: :k: :l: :m: :n: :o: :p: :q: :r:
:s: :t: :u: :v: :w: :x: :y: :z: :ab:
Previous Post Next Post Home
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Mohon maaf apabila terdapat komentar yang sesuai kriteria di bawah ini akan dihapus, demi kenyamanan bersama

1. Komentar berbau pornografi, sara, dan menyinggung.
2. Mencantumkan link hidup.
3. Mengandung SPAM.
4. Mempromosikan Iklan.

Terima kasih atas perhatiannya.